Pulau Kemaro, bukti cinta Abadi
Pulau Kemaro, begitulah nama sebuah
daratan yang terletak di tengah sungai Musi (sungai yang membelah kota
Palembang). Dinamakan pulau kemaro karena menurut rakyat, pulau ini
tidak pernah digenangi air. Walaupun volume air di sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro
tetap saja kering. Karena keunikan inilah, masyarakat sekitarnya menjulukinya
sebagai Pulau Kemaro.
Pulau Kemaro adalah satu obyek wisata religius di Kota
Palembang. Pulau ini memiliki luas 5 hektare dan letaknya sekitar 3 mil di
sebelah hilir Jembatan Ampera, Palembang. Akar budaya dan
legenda yang terkandung di dalamnya menjadi magnet yang mampu menarik minat
banyak orang.
SEJUK terasa di bawah rindangnya
puluhan pohon angsana raksasa. Perahu getek merupakan salah satu alat
transportasi sungai yang dapat digunakan untuk mencapai Pulau Kemaro. Terbuat
dari kayu dengan panjang sekitar empat meter, perahu ini digerakkan oleh mesin
motor.
Pulau ini akan
ramai didatangi oleh para pengunjung etnis cina baik dari dalam maupun luar
negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Cina dan beberapa negara lainnya
terutama pada saat Cap Go Me (15 hari setelah Imlek) , dan di sana ada sebuah
pohon langka yang di sebut pohon cinta yang mana apabila pasangan muda-mudi
yang berpacaran apabila mengukir nama mereka konon cinta mereka akan berlanjut
ke pelaminan.
Keberadaan
Kelenteng Hok Cang Bio yang dibangun sejak tahun 1962 yang sebelumnya kelenteng
ini hanya berupa bangunan gubuk--memiliki makna ritual yang tinggi bagi
penganut Tridarma. Begitu juga makam buyut Siti Fatimah yang dipercaya sebagai
lambang cinta sejati.
Pada malam
perayaan Cap Go Meh, suasana di Pulau Kemaro bak pasar malam di negeri Tirai
Bambu. Kedai makanan dan minuman sengaja didirikan untuk menjamu para tetamu
yang datang dari Cina, Jepang, Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Pengunjung
semakin dimanjakan karena disediakan jembatan ponton untuk menyeberangi Sungai
Musi.
Menuju Pulau
Kemaro tidaklah sulit. Ada dua rute yang dapat ditempuh. Pertama
mengarungi Sungai Musi dengan naik kapal wisata atau perahu getek dari Dermaga
Benteng Kuto Besak, di samping Jembatan Ampera. Tarif berkisar antara Rp 20.000
sampai 50.000. Lama perjalanan sekitar 30 menit. Angkutan wisata Sungai Musi di
atas tidak langsung ke Pulau Kemaro tetapi juga singgah di objek wisata lainnya
dengan rute perjalanan BKB-Ki Merogan-Kampung Kapitan-Bagus Kuning- Pulau
Kemaro-Masjid Lawang Kidul-BKB. Namun kalau mau langsung ke Pulau Kemaro,
pemilik kapal tentu akan melayani dengan senang hati.
Kedua melalui jalan
darat ke Dermaga Intirub di Kelurahan Sungai Lais, Kecamatan Kalidoni,
Palembang. Jaraknya sekitar dua kilometer dari PT Pusri. Di dermaga telah menunggu
perahu getek dengan biaya berkisar Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Perahu getek
yang memuat enam penumpang ini biasanya akan mengelilingi Pulau Kemaro, mampir,
dan pulang ke dermaga lagi. Kalau hanya minta antar menyeberang, waktunya tidak
lebih dari lima menit.
Di balik itu semua, pulau kemaro
menyimpan cerita tentang cinta sejati antara putri Fatimah dengan pangeran Tan
Bun Ann. Menurut cerita, pada zaman dahulu seorang putri dari raja Sriwijaya
bernama Siti Fatimah dilamar oleh putra raja dari negeri Tiongkok
bernama Tan Bun Ann. Raja Sriwijaya ini mengajukan persyaratan yang harus
dipenuhi oleh Tan Bun Ann. Persyaratannya adalah Tan Bun Ann harus
menyediakan 9 guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann pun menerima syarat yang
diajukan itu. Untuk menghindari bajak laut, emas yang berada di dalam guci-guci
itu dilapisi sayur-mayur oleh keluarga tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann.
Pada suatu hari
rombongan Tan Bun Ann tiba dari Tiongkok dengan 9 guci emas yang telah
dijanjikan. Namun, setelah diminta menunjukkan isi gucinya oleh raja Sriwijaya,
Tan Bun Ann terkejut karena melihat sayur mayur di dalam 9 guci yang dibawanya.
Karena kaget dan marah, tanpa memeriksa terlebih dahulu, Tan Bun Ann langsung
melemparkan guci-guci tersebut ke dalam Sungai Musi. Tetapi pada guci yang
terakhir, terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan, sehingga
terlihatlah kepingan emas yang berada di dalamnya.
Rasa penyesalan
yang membuat Tan Bun Ann mengambil keputusan tak terduga, ia menceburkan diri
ke dalam Sungai Musi. Melihat kejadian tersebut, Siti Fatimah ikut menceburkan
diri ke sungai, sambil berkata, “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepi
sungai ini, maka di situlah kuburan saya.” Dan ternyata benar, tiba-tiba dari
bawah sungai timbul gundukan tanah yang akhirnya sekarang menjadi pulau Kemaro
ini.
Apabila kita
berkunjung ke pulau Kemaro, akan didapati tiga buah gundukan tanah yang
menyerupai batu karang, dimana setiap gundukan diberi semacam atap dari kayu
dan diberi batu nisan dengan tulisan Tiongkok yang didominasi warna merah.
Menurut cerita, gundukan tanah yang di tengah adalah makam sang putri.
Sedangkan dua gundukan tanah yang ada di sebelanya merupakan makam ajudan dari
pangeran Tiongkok dan dayang kepercayaan sang putri. Hingga kini makam-makam
tersebut masih terawat baik sebagai legenda pulau Kemaro.
Namun, Pada Zaman Kesutanan Palembang,
di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I dan II, Pulau Kemaro adalah
benteng pertahanan sewaktu melawan penjajah. Pada zaman itu pula Pulau Kemaro
disebut Benteng Tameng Ratu yang dikomandoi Pangeran Ratu.
0 komentar:
Posting Komentar